GURUKU PETANI SUKSES
GURUKU PETANI SUKSES
Karya: Muhammad Irwandi
Aku selalu mengira guru Bahasa Indonesia itu hidupnya hanya di antara buku, puisi, dan tanda baca. Sampai aku bertemu Pak Muzanni.
Pak Muzanni tidak seperti guru lain. Kalau guru lain datang dengan tas kulit berisi laptop, beliau datang dengan sepatu boot yang masih ada sisa tanah merahnya. Kalau guru lain membahas Chairil Anwar, beliau membahas harga cabai merah di Pasar Calang pagi ini.
"Anak-anak, hari ini kita belajar membuat teks prosedur," katanya suatu pagi di kelas XII.
Kami mengangguk lesu. Teks prosedur. Membosankan.
"Tapi," lanjutnya sambil tersenyum, "Bapak tidak mau kalian menulis prosedur cara membuat mie instan. Bapak mau kalian menulis prosedur cara membuat petani menjadi miliarder."
Satu kelas langsung tegak.
Itulah Pak Muzanni. Guru Bahasa Indonesia di SMKN 1 Setia Bakti. Lima tahun lalu, orang-orang menertawakannya. Seorang guru , sarjana bahasa, tiba-tiba membeli cangkul dan memamfaatkan setengah hektare tanah di belakang sekolah yang penuh semak.
"Buang-buang gelar," kata orang.
"Guru kok jadi petani?" cibir yang lain.
Pak Muzanni hanya diam. Sepulang mengajar pukul 14.00, ia tidak pulang ke rumah untuk rebahan. Ia ganti baju, mengambil cangkul, dan menjadi murid lagi. Muridnya adalah tanah.
Tahun pertama gagal total. Cabai merahnya diserang patek. Daunnya keriting. Panennya hanya dapat dua karung. Rugi.
Tahun kedua, ia belajar lagi. Ia mencatat seperti ia mengajarkan kami mencatat unsur intrinsik . Ia mencatat pH tanah, musim hujan, jenis pupuk. Ia buat jurnal petani.
"Bahasa Indonesia mengajarkan Bapak satu hal, Nak," katanya padaku sore itu ketika aku main ke kebunnya karena disuruh membuat tugas wawancara. "Bahasa itu jujur. Kalau salah ejaan, salah arti. Tanah juga begitu. Kalau salah perlakukan, dia jujur. Tidak mau berbuah."
Di tahun ketiga, kebunnya mulai merah. Merah menyala seperti bendera. Cabai merah keriting miliknya tumbuh subur. Setengah hektare itu menghasilkan hampir setengah ton.
Dan di tahun kelima, tahun ini, Pak Muzanni tidak lagi setengah hektare. Dua hektare. Ia sudah punya 3 orang pekerja, semuanya alumni SMK kami yang belum dapat kerja. Ia sudah punya pelanggan tetap dari luar kabupaten.
Aku bertanya, "Pak, kenapa Bapak tetap mengajar? Kan hasil cabai Bapak sebulan bisa tiga kali lipat gaji guru?"
Ia tertawa. Tangannya yang kasar karena tanah menepuk bahu saya.
"Dulu Bapak berpikir sukses itu kalau Bapak kaya sendiri. Sekarang Bapak tau, sukses itu kalau Bapak bisa membuat orang lain berani mencoba. Kalau Bapak berhenti mengajar, siapa yang akan bilang ke anak SMK seperti kamu, bahwa cangkul itu sama mulianya dengan ijazah?"
Hari itu aku pulang tidak hanya membawa tugas wawancara. Aku membawa sebuah kesadaran.
Di sekolah kami, kami diajarkan menjadi karyawan. Melamar kerja. Menunggu panggilan. Padahal di belakang sekolah, guru Bahasa Indonesia kami sedang menunjukkan cara menjadi pemberi kerja. Dari tanah.
Kemarin, saat upacara, Pak Muzanni dipanggil ke depan. Bukan untuk baca puisi. Kepala sekolah mengumumkan, Pak Muzanni menjadi pembina TEFA Agribisnis. Kebun cabainya akan menjadi laboratorium hidup bagi seluruh siswa.
Anak-anak bertepuk tangan. Beberapa orang tua yang hadir meneteskan air mata.
Guruku memang bukan petani biasa. Ia adalah guru yang menanam dua hal sekaligus: cabai merah di tanah Aceh Jaya, dan keberanian di hati murid-muridnya.
Dan keduanya, kini, tumbuh subur.
TAMAT
---
Pesan Moral untuk Siswa:
1. Ijazah SMK itu bukan untuk melamar kerja saja, tapi untuk menciptakan kerja.
2. Jangan malu jadi petani. Petani modern adalah CEO yang kantornya di kebun.
3. Kegagalan 2 tahun pertama Pak Muzanni adalah biaya untuk belajar. Jangan takut gagal.
Komentar
Jadilah yang pertama berkomentar di sini